Usaha-usaha yang harus kita
lakukan dalam menghadapi era globalisasi ini adalah sebagai berikut :
Ø Meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai filter budaya asing
yang bersifat negatif.
Ø Peningkatan
penghayatan dan pengamalan Pancasila untuk memperkukuh persatuan dan kesatuan
bangsa
Ø Menghayati
dan mengintensifkan pembelajaran budaya tradisional yang bernilai luhur agar
tidak musnah diganti oleh kebudayaan asing.
Ø Meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan agar dapat memilih mana yang baik dan benar bagi
masyarakat. Karena itu, tidak semua kebudayaan asing baik dan cocok untuk
diterapkan pada masyarakat Indonesia.
Ø meningkatkan
pendidikan adalah upaya meningkatkan kualitas diri agar dapat bersaing dengan
bangsa lain baik dalam mencari lapangan kerja di dalam negeri maupun di luar
negeri.
Ø Meningkatkan
kualitas produk dalam negeri agar dapat bersaing merebut pasar local, nasional,
dan internasional.
Ø Meningkatkan
enguasaan teknologi di segala bidang agar kita tidak bergantung pada bangsa
lain, mandiri, dan percaya pada diri sendiri.
Ø Menumbuhkan
kinerja yang berwawasan luas dan beretos kerja tinggi.
Ø Menumbuhkan
dinamika yang terbuka dan tanggap tehadap unsure-unsur pembaharuan
Dalam menerima pengaruh
asing, bangsa Indonesia jangan bersifat pasif atau menerima begitu
saja pengaruh tersebut. Bangsa Indonesia harus bersifat aktif
menyeleksi pengaruh tersebut. Kebudayaan asing diakulturasikan secara serasi
dengan kebudayaan asli sehingga menghasilkan kebudayaan yang bercorak khas.
Kebudayaan material
dan gaya hidup kebarat-baratan cenderung lebih cepat menjalar dan
diterima oleh masyarakat. Kesalahpahaman mengartikan “hidup modern” akan
membawa kita dalam kehidupan yang tanpa moral dan hilangnya kepribadian bangsa.
Individualisme, konsumerisme berlebihan, minuman keras, hidup bebas, obat
terlarang, brutalisme, dan atheisme adalah sikap dan gaya hidup yang
harus dihindarkan akibat negative dari globalisasi.
Bagi bangsa Indonesia,
Pancasila dalam proses pembangunan sosial budaya bangsa akan dapat berfungsi
sesuai paying dan sekaligus sebagai dasar pembangunan. Oleh karena itu, nilai
budaya Indonesia diharapkan tidak ada tergeser dan nilai hakikinya, yaitu
nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Ilmu pengetahuan dan
teknologi memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan bangsa,
khususnya perkembangan budaya. Kedatangan setiap teknologi baru harus kita
terima dengan pikiran terbuka dan penuh kewaspadaan.
Selain itu, sifat
kebudayaan kita yang tertutup dan membuat orang merahasiakan apa yang
diketahuinya, padahal sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan bangsa
dengan tujuan agar tetap unggul secara individu.
Arus informasi yang berkesinambungan
dari media dan kontak langsung dengan dunia luar akan mempengaruhi perubahan
sosial. sistem komunikasi internasional dan nasional yang disajikan melalui
media sangat berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah
ekonomi, kebudayaan, dan agama.
Seyyed Hossein Nasr telah menegaskan bahwa
kekacauan yang mewarnai kurikulum pendidikan modern di kebanyakan negara Islam
sekarang ini, dalam banyak hal, disebabkan oleh hilangnya visi hierarkis
terhadap pengetahuan seperti yang dijumpai dalam pendidikan Islam tradisional
dalam kurikulum pendidikan Islam yang kita miliki masih harus dikaji ulang
dengan proses dialektika yang kokoh dan mendalam, perkembangan globalisasi
telah membawa dampak yang begitu besar dan bersifat multidimensi, orientasi
kurikulum hendaknya diarahkan pada sebuah proses yang lebih kontekstual yang
tidak terjebak pada kerangka retorika teoritis. Keadaan yang demikian terlihat
dalam kenyataan ketika pendidikan Islam masih gagap dihadapkan pada isu-isu
seperti pluralisme, multikulturalisme, feminisme dan globalisasi itu sendiri.
Globalisasi bukan hanya merupakan latar belakang struktural saja, tapi juga
pendekatan. Kelalaian dalam merespons perubahan, kajian Islam, dan orientasinya
akan membawa umat pada posisi sulit. Globalisasi dewasa ini menampilkan suatu
corak hubungan antar bangsa yang tidak seimbang. Hubungan antara negara maju
dengan negara-negara berkembang masih ditandai dengan polarisasi kuat lemah,
hal ini pada gilirannya akan menyebabkan masuknya budaya asing kedalam budaya
nasional suatu bangsa dan mengakibatkan perubahan budaya yang tidak seimbang.
Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islam and
the Challenge of the 21st Century menyebutkan bahwa: tantangan serius yang
dihadapi muslim dari luar adalah apa yang disebut kesalahan posisi Barat pada
tatanan global. Ini merupakan tipuan dan permainan yang sangat penting yang
terjadi di dunia saat ini. Secara umum penjajahan telah berakhir, namun ada
bentuk penjajahan baru yang selalu berbicara atas nama global. Tapi sebenarnya
tidak demikian, karena hal itu tidak semua bagian di dunia ini terlibat dalam
kasus itu. Perubahan dunia yang semakin cepat menuntut berbagai pemikiran yang
maju untuk memposisikan pendidikan Islam sebagai benteng pertahanan sekaligus
pilar utama dalam mendorong terbentuknya moralitas global. Dan jantung dari
pendidikan adalah kurikulum.
Kedua, menyangkut persoalan metode, dalam
qoidah fiqih disebutkan Attoriqotu Ahammu minal Maddah, masalah yang kedua ini
menjadi persoalan yang sangat serius, sebab hal ini menyangkut bagaimana pesan
dari esensi pendidikan tersampaikan secara tepat.
Ketiga, orientasi pendidikan Islam sebab
untuk memperlaju globalisasi yang sepertinya tidak mungkin lagi terbendung oleh
kekuatan manapun, perlu melahirkan sebuah konsepsi yang riel dan sistematis
sekaligus menjawab pertanyaan di atas dan menjadi perangkat tanding bagi gerak
laju globalisasi.