Jumat, 25 Maret 2016

Tantangan orang Islam dalam menghadapi Globalisasi dan Orientalisme


Usaha-usaha yang harus kita lakukan dalam menghadapi era globalisasi ini adalah sebagai berikut :

Ø  Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai filter budaya asing yang bersifat negatif.
Ø  Peningkatan penghayatan dan pengamalan Pancasila untuk memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa
Ø  Menghayati dan mengintensifkan pembelajaran budaya tradisional yang bernilai luhur agar tidak musnah diganti oleh kebudayaan asing.
Ø  Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat memilih mana yang baik dan benar bagi masyarakat. Karena itu, tidak semua kebudayaan asing baik dan cocok untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia.
Ø  meningkatkan pendidikan adalah upaya meningkatkan kualitas diri agar dapat bersaing dengan bangsa lain baik dalam mencari lapangan kerja di dalam negeri maupun di luar negeri.
Ø  Meningkatkan kualitas produk dalam negeri agar dapat bersaing merebut pasar local, nasional, dan internasional.
Ø  Meningkatkan enguasaan teknologi di segala bidang agar kita tidak bergantung pada bangsa lain, mandiri, dan percaya pada diri sendiri.
Ø  Menumbuhkan kinerja yang berwawasan luas dan beretos kerja tinggi.
Ø  Menumbuhkan dinamika yang terbuka dan tanggap tehadap unsure-unsur pembaharuan

Dalam menerima pengaruh asing, bangsa Indonesia jangan bersifat pasif atau menerima begitu saja pengaruh tersebut. Bangsa Indonesia harus bersifat aktif menyeleksi pengaruh tersebut. Kebudayaan asing diakulturasikan secara serasi dengan kebudayaan asli sehingga menghasilkan kebudayaan yang bercorak khas.
Kebudayaan material dan gaya hidup kebarat-baratan cenderung lebih cepat menjalar dan diterima oleh masyarakat. Kesalahpahaman mengartikan “hidup modern” akan membawa kita dalam kehidupan yang tanpa moral dan hilangnya kepribadian bangsa. Individualisme, konsumerisme berlebihan, minuman keras, hidup bebas, obat terlarang, brutalisme, dan atheisme adalah sikap dan gaya hidup yang harus dihindarkan akibat negative dari globalisasi.
Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dalam proses pembangunan sosial budaya bangsa akan dapat berfungsi sesuai paying dan sekaligus sebagai dasar pembangunan. Oleh karena itu, nilai budaya Indonesia diharapkan tidak ada tergeser dan nilai hakikinya, yaitu nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan bangsa, khususnya perkembangan budaya. Kedatangan setiap teknologi baru harus kita terima dengan pikiran terbuka dan penuh kewaspadaan.
Selain itu, sifat kebudayaan kita yang tertutup dan membuat orang merahasiakan apa yang diketahuinya, padahal sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan bangsa dengan tujuan agar tetap unggul secara individu.
Arus informasi yang berkesinambungan dari media dan kontak langsung dengan dunia luar akan mempengaruhi perubahan sosial. sistem komunikasi internasional dan nasional yang disajikan melalui media sangat berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah ekonomi, kebudayaan, dan agama.
Seyyed Hossein Nasr telah menegaskan bahwa kekacauan yang mewarnai kurikulum pendidikan modern di kebanyakan negara Islam sekarang ini, dalam banyak hal, disebabkan oleh hilangnya visi hierarkis terhadap pengetahuan seperti yang dijumpai dalam pendidikan Islam tradisional dalam kurikulum pendidikan Islam yang kita miliki masih harus dikaji ulang dengan proses dialektika yang kokoh dan mendalam, perkembangan globalisasi telah membawa dampak yang begitu besar dan bersifat multidimensi, orientasi kurikulum hendaknya diarahkan pada sebuah proses yang lebih kontekstual yang tidak terjebak pada kerangka retorika teoritis. Keadaan yang demikian terlihat dalam kenyataan ketika pendidikan Islam masih gagap dihadapkan pada isu-isu seperti pluralisme, multikulturalisme, feminisme dan globalisasi itu sendiri. Globalisasi bukan hanya merupakan latar belakang struktural saja, tapi juga pendekatan. Kelalaian dalam merespons perubahan, kajian Islam, dan orientasinya akan membawa umat pada posisi sulit. Globalisasi dewasa ini menampilkan suatu corak hubungan antar bangsa yang tidak seimbang. Hubungan antara negara maju dengan negara-negara berkembang masih ditandai dengan polarisasi kuat lemah, hal ini pada gilirannya akan menyebabkan masuknya budaya asing kedalam budaya nasional suatu bangsa dan mengakibatkan perubahan budaya yang tidak seimbang.
Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islam and the Challenge of the 21st Century menyebutkan bahwa: tantangan serius yang dihadapi muslim dari luar adalah apa yang disebut kesalahan posisi Barat pada tatanan global. Ini merupakan tipuan dan permainan yang sangat penting yang terjadi di dunia saat ini. Secara umum penjajahan telah berakhir, namun ada bentuk penjajahan baru yang selalu berbicara atas nama global. Tapi sebenarnya tidak demikian, karena hal itu tidak semua bagian di dunia ini terlibat dalam kasus itu. Perubahan dunia yang semakin cepat menuntut berbagai pemikiran yang maju untuk memposisikan pendidikan Islam sebagai benteng pertahanan sekaligus pilar utama dalam mendorong terbentuknya moralitas global. Dan jantung dari pendidikan adalah kurikulum.
Kedua, menyangkut persoalan metode, dalam qoidah fiqih disebutkan Attoriqotu Ahammu minal Maddah, masalah yang kedua ini menjadi persoalan yang sangat serius, sebab hal ini menyangkut bagaimana pesan dari esensi pendidikan tersampaikan secara tepat.

Ketiga, orientasi pendidikan Islam sebab untuk memperlaju globalisasi yang sepertinya tidak mungkin lagi terbendung oleh kekuatan manapun, perlu melahirkan sebuah konsepsi yang riel dan sistematis sekaligus menjawab pertanyaan di atas dan menjadi perangkat tanding bagi gerak laju globalisasi.